JAKARTA, mading.com - Hasil pengujian UPTD Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara mengonfirmasi keberadaan tiga jenis bakteri patogen dalam sampel menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menguji ketahanan tubuh ratusan siswa di Berastagi, Kabupaten Karo. Dokumen pengujian bernomor 008.2/4129/UPTD LABKES/VIII/2026 tersebut mencatat bahwa sampel makanan MBG untuk siswa di Berastagi, positif terpapar bakteri Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli (E. coli). Apa bahaya dari bakteri-bakteri ini bagi Kesehatan?

Edukator kesehatan dr. Adam Prabata, dalam unggahan di aku X pribadinya @AdamPrabata, memberikan penjelasan mendalam mengenai karakteristik dan ancaman medis dari masing-masing patogen. Terkait ditemukannya Bacillus cereus pada nasi, dr. Adam Prabata menjelaskan, bakteri ini dapat ditemukan pada makanan dan berpotensi menyebabkan keracunan jika sajian dibiarkan terlalu lama di suhu ruangan. Ia menekankan bahwa spora yang memicu keracunan ini sangat stabil dalam suhu panas, sehingga proses memanaskan ulang makanan tidak selalu bisa menghilangkan racunnya.

"Gejala umum yang ditimbulkannya meliputi mual, muntah, diare, hingga kram perut. Namun, pada kondisi keracunan toksin cereulide dengan kadar sangat tinggi, dapat muncul kondisi berat seperti gagal ginjal akut, gagal liver, hingga ensefalopati atau gangguan otak," kata dr. Adam, dikutip Rabu (9/9/2026).

Mengenai keberadaan Staphylococcus aureus yang terdeteksi pada lauk ikan dencis dan muntahan korban bernama Mutiara, dr. Adam Prabata memaparkan, bakteri ini umumnya ditemukan pada kulit dan tangan manusia. Ketika bakteri tersebut masuk ke dalam makanan dan dibiarkan dalam jangka waktu lama, mikroba ini akan menghasilkan racun yang dikenal sebagai staphylococcal enterotoxin. Sama halnya dengan Bacillus cereus, racun dari Staphylococcus aureus juga mampu bertahan meskipun makanan telah dipanaskan kembali. "Paparan racun ini biasanya memicu gejala berupa mual, muntah, diare, kram perut, hingga demam pada penderitanya," ujar dr. Adam.

Sementara itu, untuk cemaran E. coli pada potongan melon, dr. Adam Prabata menyebutkan, E. coli sebenarnya merupakan bakteri normal di saluran cerna manusia, tetapi keberadaannya pada sajian makanan menandakan adanya masalah higienitas dan indikasi kuat kontaminasi fekal. Meskipun tidak semua strain E. coli memicu penyakit, jenis tertentu seperti Shiga toxin-producing E. coli (STEC) sangat berbahaya karena dapat menyebabkan hemolytic uremic syndrome (HUS) yang bermanifestasi pada gagal ginjal akut.

"Pada infeksi berat, STEC juga berisiko menimbulkan komplikasi ke sistem saraf, baik secara langsung maupun akibat dampak dari komplikasi ginjal, dengan gejala mulai dari kejang, penurunan kesadaran, hingga gangguan gerak," tegasnya.

Kendati demikian, dr. Adam Prabata memberikan catatan penting bahwa ditemukannya bakteri pada makanan belum tentu serta-merta menjadi penyebab pasti keracunan secara langsung. Untuk memastikan hubungan sebab-akibat tersebut secara akurat, temuan laboratorium pada makanan masih perlu dicocokkan dengan sejumlah parameter medis lainnya, meliputi gejala klinis yang dialami pasien, rentang waktu munculnya gejala, hingga jumlah pasti konsentrasi bakteri dan toksin yang terkandung di dalam makanan tersebut.