EKONOMI
Bukan Karena Bangkrut, Ini Alasan Mengejutkan CEO Uber Lakukan PHK Massal 3.300 Karyawan September
Ringkasan Berita
Uber memangkas sekitar 3.300 karyawan atau 10 persen dari total tenaga kerja globalnya dalam restrukturisasi terbesar sejak pandemi Covid-19.
JAKARTA, mading.com - Uber memangkas sekitar 3.300 karyawan atau 10 persen dari total tenaga kerja globalnya dalam restrukturisasi terbesar sejak pandemi Covid-19. Keputusan itu diumumkan CEO Uber Dara Khosrowshahi melalui memo kepada seluruh karyawan yang dipublikasikan di situs resmi perusahaan pada Rabu (2/9/2026). Perampingan diarahkan untuk mengurangi lapisan manajemen dan mengalihkan sumber daya ke bisnis mobilitas, pengantaran, serta taksi otonom atau robotaxi.
Pemangkasan dilakukan ketika kinerja bisnis Uber masih tumbuh. Laporan kuartal II 2026 mencatat pendapatan Uber mencapai 14,2 miliar dollar AS, naik 12 persen secara tahunan, dengan nilai pemesanan bruto 58 miliar dollar AS. “Pertumbuhan itu juga membawa lebih banyak lapisan, lebih banyak koordinasi, dan kepemilikan yang kian terpecah,” tulis Khosrowshahi dalam memo tersebut.
Khosrowshahi menyebut perampingan bukan disebabkan kondisi bisnis yang melemah. Dalam memo yang sama, ia mengatakan pendapatan Uber hampir tiga kali lipat dalam lebih dari lima tahun terakhir. Pertumbuhan tersebut dinilai membuat pengambilan keputusan menjadi lebih lambat karena struktur organisasi semakin kompleks.
Uber memangkas sekitar 20 persen karyawan yang berada tujuh tingkat atau lebih di bawah posisi CEO. Sebagian manajer pada jenjang itu akan kembali mengerjakan tugas teknis sebagai staf individual. Perusahaan juga mengurangi hampir separuh tim yang hanya beranggotakan satu atau dua orang karena dinilai menambah proses koordinasi.
Sejumlah fungsi yang dianggap tumpang tindih turut digabung. Tiga tim operasi pengantaran untuk restoran, ritel, dan layanan Direct disatukan dalam struktur global, regional, serta nasional. Di bidang teknologi, tim Core Services Engineering digabung dengan tim Science.
Uber juga mengubah kebijakan lokasi kerja. Tim global akan dipusatkan di New York dan San Francisco, sedangkan tim regional dan nasional ditempatkan di hub masing-masing. Perusahaan memperkirakan hanya sekitar 1 persen karyawan yang tetap bekerja sepenuhnya dari jarak jauh, sementara mayoritas diwajibkan mengikuti pola kerja hybrid minimal tiga hari di kantor setiap pekan.
Penghematan dari restrukturisasi akan dialihkan untuk memperkuat layanan bagi pengemudi, kurir, dan mitra usaha, serta pengembangan kendaraan otonom. Reuters melaporkan Uber menyiapkan investasi lebih dari 10 miliar dollar AS untuk bisnis robotaxi dalam beberapa tahun mendatang. Strategi tersebut ditempuh saat Uber menghadapi persaingan dari Waymo, Tesla, dan perusahaan teknologi lain di sektor transportasi otonom.
PHK September menjadi gelombang ketiga yang dilakukan Uber sepanjang 2026. Pada Juni, perusahaan memangkas 23 persen staf divisi People and Places, sedangkan pada akhir Juli sekitar 10 persen staf layanan pelanggan diberhentikan. Gelombang terbaru mencakup hampir seluruh lini bisnis dan menjadi yang terbesar tahun ini.
Jumlah tersebut masih lebih kecil dibandingkan PHK Uber pada 2020 ketika pandemi menghantam bisnis transportasi daring. Saat itu, Uber memangkas 3.700 karyawan pada Mei dan sekitar 3.000 karyawan tambahan dua pekan kemudian. Total pengurangan mencapai 6.700 orang dari sekitar 26.900 karyawan.
Uber memiliki sekitar 34.000 karyawan pada akhir 2025 dan beroperasi di lebih dari 70 negara. Perusahaan tidak lagi melayani konsumen secara langsung di Indonesia setelah menjual bisnis Asia Tenggara kepada Grab pada 2018. Karena itu, restrukturisasi terbaru diperkirakan tidak berdampak langsung terhadap penumpang dan mitra pengemudi Uber di Indonesia. (RHU)
Pemangkasan dilakukan ketika kinerja bisnis Uber masih tumbuh. Laporan kuartal II 2026 mencatat pendapatan Uber mencapai 14,2 miliar dollar AS, naik 12 persen secara tahunan, dengan nilai pemesanan bruto 58 miliar dollar AS. “Pertumbuhan itu juga membawa lebih banyak lapisan, lebih banyak koordinasi, dan kepemilikan yang kian terpecah,” tulis Khosrowshahi dalam memo tersebut.
Khosrowshahi menyebut perampingan bukan disebabkan kondisi bisnis yang melemah. Dalam memo yang sama, ia mengatakan pendapatan Uber hampir tiga kali lipat dalam lebih dari lima tahun terakhir. Pertumbuhan tersebut dinilai membuat pengambilan keputusan menjadi lebih lambat karena struktur organisasi semakin kompleks.
Uber memangkas sekitar 20 persen karyawan yang berada tujuh tingkat atau lebih di bawah posisi CEO. Sebagian manajer pada jenjang itu akan kembali mengerjakan tugas teknis sebagai staf individual. Perusahaan juga mengurangi hampir separuh tim yang hanya beranggotakan satu atau dua orang karena dinilai menambah proses koordinasi.
Sejumlah fungsi yang dianggap tumpang tindih turut digabung. Tiga tim operasi pengantaran untuk restoran, ritel, dan layanan Direct disatukan dalam struktur global, regional, serta nasional. Di bidang teknologi, tim Core Services Engineering digabung dengan tim Science.
Uber juga mengubah kebijakan lokasi kerja. Tim global akan dipusatkan di New York dan San Francisco, sedangkan tim regional dan nasional ditempatkan di hub masing-masing. Perusahaan memperkirakan hanya sekitar 1 persen karyawan yang tetap bekerja sepenuhnya dari jarak jauh, sementara mayoritas diwajibkan mengikuti pola kerja hybrid minimal tiga hari di kantor setiap pekan.
Penghematan dari restrukturisasi akan dialihkan untuk memperkuat layanan bagi pengemudi, kurir, dan mitra usaha, serta pengembangan kendaraan otonom. Reuters melaporkan Uber menyiapkan investasi lebih dari 10 miliar dollar AS untuk bisnis robotaxi dalam beberapa tahun mendatang. Strategi tersebut ditempuh saat Uber menghadapi persaingan dari Waymo, Tesla, dan perusahaan teknologi lain di sektor transportasi otonom.
PHK September menjadi gelombang ketiga yang dilakukan Uber sepanjang 2026. Pada Juni, perusahaan memangkas 23 persen staf divisi People and Places, sedangkan pada akhir Juli sekitar 10 persen staf layanan pelanggan diberhentikan. Gelombang terbaru mencakup hampir seluruh lini bisnis dan menjadi yang terbesar tahun ini.
Jumlah tersebut masih lebih kecil dibandingkan PHK Uber pada 2020 ketika pandemi menghantam bisnis transportasi daring. Saat itu, Uber memangkas 3.700 karyawan pada Mei dan sekitar 3.000 karyawan tambahan dua pekan kemudian. Total pengurangan mencapai 6.700 orang dari sekitar 26.900 karyawan.
Uber memiliki sekitar 34.000 karyawan pada akhir 2025 dan beroperasi di lebih dari 70 negara. Perusahaan tidak lagi melayani konsumen secara langsung di Indonesia setelah menjual bisnis Asia Tenggara kepada Grab pada 2018. Karena itu, restrukturisasi terbaru diperkirakan tidak berdampak langsung terhadap penumpang dan mitra pengemudi Uber di Indonesia. (RHU)